Sholatlah Anda, sebelum Anda disholatkan orang lain dan Hisablah diri Anda, sebelum Anda dihisap di Yaumil Hisab...

Pesan kami

Sholatlah Anda, sebelum Anda disholatkan orang lain dan Hisablah diri Anda, sebelum Anda dihisap di Yaumil Hisab...

Amrullah Ibraim, S.Kom

Tampilkan postingan dengan label Ba'da. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ba'da. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Oktober 2012

Zikir ba'da sholat Fardu

Risalah ini menerangkan tentang dzikir-dzikir yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah shalat fardhu dalam riwayat-riwayat yang shohih atau minimal hasan.
Perlu di ketahui bahwa tata cara ibadah kita kepada Allah harus didasari dengan mutaba’ah (mengikuti petunjuk dan praktek Rasulullah) dan menjauhi bentuk tata cara ibadah yang tidak ada contoh dan anjurannya (bid’ah) dari Rasul dan ini merupakan realisasi syahadah kita. Karena segala kebaikan dan kemaslahatan hanya ada pada petunjuk dan contoh dari Rasul serta praktek para sahabat. Segala bentuk dan tata cara peribadatan yang tidak di contohkan oleh Rasul dan para sahabatnya, meskipun dilakukan dengan ikhlas adalah bid’ah yang pasti di tolak oleh Allah. Rasul bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsipa mengamalkan suatu amalan (dalam dien ini) yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR.Muslim no.1718)
Tertolak dalam arti tidak di terima bahkan berdosa, karena menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Maka seyogyanya seorang muslim itu merujuk pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya saja.
Dzikir setelah setelah sholat fardhu ini di lakukan sendiri-sendiri, karena itulah yang di lakukan Rasul dan para sahabatnya pada waktu mereka selesai melakukan sholat berjama’ah. Hal itu dapat di lihat pada kalimat-kalimat dzikir yang di pergunakan, semuanya memakai isim mufrad (tunggal) bukan jamak (banyak) dan tidak mengapa dzikir di lakukan dengan suara agak keras sebagaimana tercantum dalam hadits Al Bukhori dari Ibnu Abbas. (lihat jilid 1/204 No.841)
Selesai salam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan :

     اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا 

Astaghfirullah (Dibaca 3 x)

«اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»

(HR.Muslim No.593)
Setelah itu, karena Beliau imam, Beliau menghadap makmum (HR. Al Bukhari Jilid 1/205 No 845), kemudian mengucapkan:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ»

(HR.Al Bukhari 1/205 No.844 dan muslim No 593)
Kemudian membaca:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ»

(HR. Muslim No 594)
Kemudian membaca:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

(HR. Abu Dawud No.1522 An Nasai No.1302, sanadnya shahih)
Kemudian mengucapkan:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا – يَعْنِي فِتْنَةَ الدَّجَّالِ – وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ»

(HR. Al Bukhari No.2822)
Kemudian membaca:

سبحان الله

 الحمد لله 

 الله أكبر 

Masing-masing 33 x
Dilanjutkan membaca :

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Atau cukup membaca:

سبحان الله 

الحمد لله  

الله أكبر 

Masing-masing 33 x
Tanpa membaca :

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

(karena jumlahnya sudah genap 100) (HR. Muslim No.596-597)
Kemudian membaca ayat kursi:

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

(HR. An Nasai dalam Al Kubro 6/9928, Al Mundziri 2/453)
Di lanjutkan dengan membaca surat Al Ikhlas 1 (satu) kali, Al Falaq 1 (satu) kali dan An Naas 1 (satu) kali. (Abu Dawud no.1523, At Tirmidzi No.2903, An Nasai No.1335)
Khusus setelah shalat shubuh dan magrib, ketiga surat di atas di baca masing-masing 3 (tiga) kali. (Abu Dawud 2/86, An Nasai 3/68, Shahih At  Tirmidzi 2/8).
Juga di lanjutkan menambah dzikir:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ    

Dibaca 10 x
(HR. At Tirmidzi 5/515. Ahmad 4/227, lihat Takhrij dalam Zaadul Ma’ad 1/290)

Jumat, 04 Maret 2011

Sholat ba'da Isya'

Sholat Sunnah Isya (Qobliyah dan Ba’diyah)

Jumlah roka’atnya dan hukumnya : Menurut ulama Fiqih : - 2 roka’at Qobliyah Isya (Ghoiru Muakkadah) - 2 roka’at Ba’diyah Isya (Sunnah Muakkadah. Menurut Imam Ghozali : - 4 roka’at Qobliyah Isya (Ghoiru Muakkadah tercantum dalam kitab Syarah Bidayatul Hidayah) - 4 roka’at Ba’diyah Isya (Sunnah Muakadah, tercantum dalam kitab Ihya Ulumuddin Karena sesuai hadits Nabi, riwayat Siti Aisyah , ” Sholat 4 roka’at Rosulullah SAW, ba’da sholat isya yang akhir, kemudian ia tidur ”. 

Hadits

Adapun shalat sunnah 2 rakaat sebelum Isya’ tidak termasuk shalat rawatib, akan tetapi dianjurkan / disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dari ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَيْنَ كُلِّ أذَانَيْنِ صَلاةٌ
“Di antara adzan dan iqamah, ada shalat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru, ia berkata,
مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ كُنَّ كَقَدْرِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Barangsiapa yang shalat empat raka’at setelah (shalat) ‘Isya’, maka nilainya setara dengan empat raka’at pada waktu Lailatul-Qadr.” (HR Ibnu Abi Syaibah 2/343 (5/100) no. 7351; sanadnya shahih)

Dari ‘Aisyah, ia berkata,
أَرْبَعٌ بَعْدَ الْعِشَاءِ يَعْدِلْنَ بِمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Empat raka’at setelah ‘Isyaa’ setara dengan empat raka’at pada waktu Lailatul-Qadr.” (HR Ibnu Abi Syaibah, no. 7352; sanadnya hasan)

Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata,
مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِتَسْلِيمٍ ؛ عَدَلْنَ بِمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Barangsiapa yang shalat empat raka’at setelah ‘Isya’ yang tidak dipisahkan dengan salam, maka nilainya setara dengan empat raka’at pada waktu Lailatul-Qadr.” (HR Ibnu Abi Syaibah, no. 7353; sanadnya hasan)

Dari Ka’b bin Mati’, ia berkata,
مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ يُحْسِنُ فِيهِنَّ الرُّكُوعَ، وَالسُّجُودَ، عَدَلْنَ مِثْلَهُنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Barangsiapa yang shalat empat raka’at setelah ‘Isya’ dengan membaguskan rukuk dan sujud padanya, nilainya setara dengan empat raka’at pada waktu Lailatul-Qadr.” (HR Ibnu Abi Syaibah, no. 7354; HR An Nasa’i no. 4895-4896, sanadnya hasan)

Keutamaan

Amalan tersebut beserta pahalanya yang senilai dengan empat raka’at pada waktu Lailatul-Qadr, meskipun sanadnya mauquf pada shahabat radliyallaahu ‘anhum, namun hukumnya adalah marfu’, karena di dalamnya tidak ada ruang ijtihad dalam menetapkan pahala suatu amalan secara khusus, sehingga diketahui bahwasannya statement itu tidak lain hanyalah berasal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Sholat ba'da maghrib

Sholat Sunnah Maghrib (Qobliyah dan Ba’diyah) 

• Jumlah roka’atnya :2 roka’at Qobliyah Maghrib 2 roka’at Ba’adiyah Maghrib
• Hukumnya : Untuk Qobliyah Maghrib berbeda pendapat Sahabat tentang kesunnahannya, hanya saja menurut Imam Ghozali dikitab Ihya Umuluddin kebanyakan Sahabat mensunnahkannya , adapun hukumnya Ghoiru Muakkadah. Sedangkan Ba’diyah Maghrib, Hukumnya Sunnah Muakkadah.

Hadits


Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga:
كُنَّا نصلِّي عَلَى عهدِ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ قَبْلَ المَغْرِبِ، فَقِيلَ: أكَانَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – صَلاَّهما؟ قَالَ: كَانَ يَرَانَا نُصَلِّيهِمَا فَلَمْ يَأمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا.
“”Kami para sahabat di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami shalat dua rakaat setelah terbenam matahari, saat sebelum dikerjakan shalat Maghrib.” Maka ditanyakan kepada Anas: “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib?” Anas menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kami melakukan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan kami dan tidak melarang kami.”” (H.R. Muslim)

Sholat ba'da dzuhur

Sholat Sunnah Dzuhur (Qobliyah dan Ba’diyah)

Jumlah roka’at dan hukumnya ; Menurut Ulama Fiqih : v 4 roka’at Qobliyah Dzuhur (2 roka’at Muakkadah dan 2 roka’at Ghoiru Muakkadah) v 4 roka’at Ba’diyah Dzuhur (2 roka’at Muakkadah dan 2 roka’at Ghoiru Muakkadah) Pendapat Imam Ghozali yaitu 4 roka’at Qobliyah Dzuhur. Hukumnya Sunnah Muakkadah, dikarenakan Sabda Nabi, riwayat Abu Hurairah yaitu,”Barang siapa 4 roka’at setelah gelincir matahari Qobliyah Dzuhur), dan ia memperbanyakkan bacaan dalam sholatnya, dan memanjangkan bacaan ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang beserta 70 ribu malaikat yang mengucapkan baginya (orang yang sholat) itu istighfar hingga malam”

Hadits

Dari Aisyah, Nabi Muhammad sholallahu 'alaihi wasallam sudah biasa sholat sunnah sebelum Dzuhur 4 rakaat di rumah, sesudah itu beliau berangkat menuju masjid sholat berjamaah dan sepulangnya, beliau sholat sunnah 2 rakaaat.  Dan beliau sudah terbiasa sesudah jamaah solhat Maghrib, pulang kerumah sholat sunnah sebanyak 2 rakaaat. Kemudian berjamaah sholat Isya' di masjid dan pulang ke rumah sholat sunnah ba'da Isya' sebanyak 2 rakaaat. (H.R. Muslim)