Sholatlah Anda, sebelum Anda disholatkan orang lain dan Hisablah diri Anda, sebelum Anda dihisap di Yaumil Hisab...

Pesan kami

Sholatlah Anda, sebelum Anda disholatkan orang lain dan Hisablah diri Anda, sebelum Anda dihisap di Yaumil Hisab...

Amrullah Ibraim, S.Kom

Senin, 06 Oktober 2014

Sholat Hajat 2

      بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Sholat Hajat (bahasa Arab: صلاة الحاجة) adalah sholat sunnat yang dilakukan seorang muslim saat memiliki hajat tertentu dan ingin dikabulkan Allah. Sholat Hajat dilakukan antara 2 hingga 12 raka'at dengan salam di setiap 2 rakaat. Salat ini dapat dilakukan kapan saja kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan sholat.

  • "Siapa yang berwudhu dan sempurna wudhunya, kemudian salat dua rakaat (Sholat Hajat) dan sempurna rakaatnya maka Allah berikan apa yang ia pinta cepat atau lambat" ( HR.Ahmad )
  • “Barangsiapa yang memunyai kebutuhan (hajat) kepada Allah atau salah seorang manusia dari anak-cucu adam, maka wudhulah dengan sebaik-baik wudhu. Kemudian sholat dua rakaat (sholat Hajat), lalu memuji kepada Allah, mengucapkan salawat kepada Nabi. Setelah itu, mengucapkan “Laa illah illallohul haliimul kariimu, subhaana.... (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
  • Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian salat dua rakaat, setelah itu berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati dan membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini. Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang telah mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi; ia mengatakan, sanad cerita ini shahih)
  • Ada seorang yang buta matanya menemui Nabi saw, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya saya mendapatkan musibah pada mata saya, maka berdoalah kepada Allah (untuk) kesembuhanku.” Maka Nabi saw bersabda, “Pergilah, lalu berwudhu, kemudian salatlah dua rakaat (salat hajat). Setelah itu, berdoalah....” Dalam waktu yang singkat, laki-laki itu terlihat kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu memiliki kebutuhan (hajat), maka lakukanlah seperti itu (salat hajat).” (HR Tirmidzi)
Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.

Sholat Hajat 1

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(Bismillahir rohmanir rohim)

Setiap manusia memiliki kebutuhan dan keinginan, bahkan bisa dikatakan keinginan tersebut selalu ada dan tidak terbatas. Dari mulai keinginan yang dibutuhkan menyangkut dirinya sampai kepada keinginan yang dibutuhkan menyangkut sebuah negara. Bagi yang beriman, segala kebutuhan, cita-cita, harapan, dan keinginan tersebut, tidak serta merta selalu ditempuh melalui jalan usaha secara praktis belaka. Akan tetapi, ia akan terlebih dahulu mengadukannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.


"Barangsiapa yang mempunyai kebutuhan (hajat) kepada Allah atau salah seorang manusia dari anak-cucu Adam, maka wudhulah dengan sebaik-baik wudhu. Kemudian shalat dua rakaat (shalat Hajat). (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)  

"Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalanan keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat (shalat hajat).... Maka, keledai itu bangun seketika (hidup kembali), lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi)

"Ada seorang yang buta matanya menemui Nabi shollahu 'alaihi wasallam, lalu ia mengatakan, "Sesungguhnya saya mendapatkan musibah pada mata saya, maka berdoalah kepada Allah (untuk) kesembuhanku.” Maka Nabi saw bersabda, "Pergilah, lalu berwudhu, kemudian shalatlah dua rakaat (shalat hajat). Setelah itu, berdoalah....” Dalam waktu yang singkat, laki-laki itu terlihat kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Jika kamu memiliki kebutuhan (hajat), maka lakukanlah seperti itu (shalat hajat).” (HR Tirmidzi)

Setiap manusia memiliki kebutuhan dan keinginan, bahkan bisa dikatakan keinginan tersebut selalu ada dan tidak terbatas. Dari mulai keinginan yang dibutuhkan menyangkut dirinya sampai kepada keinginan yang dibutuhkan menyangkut sebuah negara. Bagi yang beriman, segala kebutuhan, cita-cita, harapan, dan keinginan tersebut, tidak serta merta selalu ditempuh melalui jalan usaha secara praktis belaka. Akan tetapi, ia akan terlebih dahulu mengadukannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sebab Dia adalah Dzat Yang Mahakaya, yang memiliki langit, bumi, dan seluruh alam semesta, Dzat Yang tidak bakhil dalam memberi kepada yang memohon dan meminta kepada-Nya. 

Oleh karena itu, Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam setiap kali menghadapi kesulitan beliau selalu mengadukannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. melalui shalat. Mengadu dan memohon kepada Tuhan yang tidak pernah sekali pun berada dalam lemah dan miskin. Kenapa? Karena shalat adalah jalan keluar bagi mereka yang memiliki kesulitan dan kebutuhan, juga sebagai media dimana seorang hamba mengadukan segala persoalan hidup yang dihadapinya. Di dalam Al-Qur`an, Allah subhanahu wa ta'ala.berfirman, "Dan mintalah pertolongan kepada Tuhanmu dengan melaksanakan shalat dan dengan sikap sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 45)

Shalat hajat, ditetapkan atau disyariatkan yang secara khusus dikaitkan kepada ibadah bagi yang sedang memiliki kebutuhan atau permasalahan. Dan tentunya, ini lebih spesifik dibandingkan dengan shalat-shalat lain dan memiliki suatu keistimewaan sendiri dari Allah dan Rasulullah saw.  

Selain itu, shalat hajat merupakan suatu cara paling tepat dalam mengadukan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seorang muslim. 

Shalat hajat merupakan salah satu jenis shalat yang disyariatkan di dalam Islam. Dasar hukum shalat hajat terdapat di dalam hadits Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam. Para sahabat, ulama salaf, dan para shalihin biasa melakukan shalat hajat, terutama ketika mereka memiliki suatu kebutuhan, baik dalam situasi mendesak maupun dalam situasi biasa. Dari beberapa keterangan yang terdapat di kitab-kitab, baik ulama salaf maupun khalaf (kontemporer), shalat ini telah banyak membuktikan keampuhan atau terkabulnya seluruh permohonan dari kebutuhan yang mereka pinta kepada Allah, sebagaimana yang terdapat pada buku ini.

Shalat hajat juga merupakan bagian dari keringanan dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta'ala. bagi hamba-Nya. Pada praktiknya shalat hajat ini sangat mudah dan bisa dilakukan pada siang hari atau malam, tidak seperti pada shalat-shalat lainnya secara umum. Misalnya, shalat dhuha hanya bisa dilakukan pada saat matahari terbit sampai datangnya waktu zuhur, atau shalat tahajud yang hanya bisa dilakukan pada malam hari.

Sebagai pembuktian atas kebenaran sabda Rasulullah terhadap shalat hajat, tidak terhitung banyaknya orang yang telah mendapatkan keajaiban dan terkabulnya permintaan atau hajat mereka. Bahkan, ada yang mendapatkan keajaiban dengan diturunkan malaikat kepadanya untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, sebagaimana yang terdapat di dalam bab "Bukti Dan Kisah Nyata Orang-Orang Mendapatkan Keajaiban Shalat Hajat”

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu 'aklam bish showab.

Sholat Tahajud 11

Keterangan Mengenai Shalat Sunnah Dikerjakan Dua Rakaat Dua Rakaat
 
Hal itu diriwayatkan dari Abu Ammar, Abu Dzar, Anas, Jabir bin Zaid, Ikrimah, dan az-Zuhri radhiyallahu 'anhum.
Yahya bin Sa'id al-Anshari berkata, "Aku tidak melihat fuqaha-fuqaha negeri kami melainkan mereka memberi salam pada setiap dua rakaat dari shalat sunnah siang hari."

Jabir bin Abdullah berkata, "Rasulullah mengajarkan kepada kami untuk istikharah (minta dipilihkan Allah) dalam seluruh urusan sebagaimana beliau mengajarkan surah Al-Qur'an kepada kami. Beliau bersabda, 'Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bermaksud akan sesuatu, maka hendaklah ia shalat dua rakaat selain fardhu. Kemudian hendaklah ia mengucapkan:

'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada Mu dari anugerah Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa dan aku tidak berkuasa. Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Zat Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (kemudian ia sebutkan hal itu 8/168) baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku, (atau beliau bersabda: kesegeraan/keduniaan urusan aku dan keakhirannya/keakhiratannya) maka kuasakanlah bagiku, mudahkanlah bagiku, kemudian berkahilah bagiku padanya. Jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (kemudian ia sebutkan hal itu) buruk bagiku dalam hal agama, kehidupan, dan kesudahan urusanku (atau beliau bersabda: kesegaraan/keduniaan urusan aku dan keakhirannya/keakhiratannya), maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya. Dapatkanlah bagiku kebaikan di mana saja ia berada, kemudian ridhailah aku dengannya.' Kemudian ia sebutkan keperluannya.'"

Abu Abdillah (Imam Bukhari) berkata, "Abu Hurairah berkata, 'Nabi berpesan kepadaku supaya melakukan shalat dhuha dua rakaat."
Itban berkata, "Pada suatu hari ketika, sudah agak siang, Rasulullah datang kepadaku bersama Abu Bakar. Lalu, kami berbaris di belakang beliau, dan beliau shalat dua rakaat."

Sholat Tahajud 10

Makruh Meninggalkan Shalat di Waktu Malam bagi Orang yang Sudah Biasa Mengerjakannya
 
Abdullah bin Amru ibnul Ash berkata, "Rasulullah berkata kepadaku, 'Wahai Abdullah, janganlah kamu menjadi seperti Fulan. Ia dahulu biasa mengerjakan shalat malam, lalu meninggalkan shalat malam itu.'"


Keutamaan Orang yang Bangun Malam Lantas Mengucapkan Istighfar, Tasbih, atau Lainnya, Kemudian Mengerjakan Shalatullail
 

Ubadah bin Shamit mengatakan bahwa Nabi bersabda, "Barangsiapa yang bangun di malam hari dan mengucapkan:
'Tiada tuhan melainkan Allah Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan segala pujian, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, tidak ada tuhan melainkan Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah', kemudian ia mengucapkan, 'Ya Allah, ampunilah aku', atau ia berdoa, maka dikabulkanlah doanya. Jika ia berwudhu dan shalat, maka diterima (shalatnya)."

Al-Haitsam bin Abu Sinan mengatakan bahwa ia mendengar Abu Hurairah r.a. menceritakan kisah-kisahnya. Ia menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya saudaramu tidak berkata jelek." Maksud beliau adaIah Abdullah bin Rawahah, ketika ia berkata, "Di sisi kami ada Rasulullah yang membaca kitab Allah. Ketika itulah kebaikan gemerlap memancar dari fajar. Beliau memperlihatkan petunjuk setelah kita buta. Dan hati kita percaya apa yang disabdakan bakal terjadi. Beliau bermalam dengan menjauhkan lambung dari hamparan di kala pembaringan-pembaringan merasa berat oleh orang-orang yang mempersekutukan Tuhan."

Sholat Tahajud 9

Berdoa dan Shalat pada Akhir Malam
 

Allah berfirman, "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah." (adz-Dzaariyaat: 17-18)

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, 'Tuhan kita Yang Mahasuci dan Mahatinggi turun ke langit dunia setiap malam ketika tinggal sepertiga malam yang akhir dengan berfirman, 'Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku lalu Aku kabulkan? Siapakah yang mau meminta kepada-Ku lalu Aku kabulkan? Siapa yang mau meminta ampun kepada-Ku lalu Aku ampuni?'"
Orang yang Tidur di Permulaan Malam dan Menghidupkan (Yakni Bangun untuk Shalatullail) pada Akhir Malam Itu
 
Salman berkata kepada Abud Darda' r.a., "Tidurlah." Kemudian pada akhir malam, Salman berkata, "Bangunlah." Nabi saw bersabda, "Salman benar."[11]
597. Al-Aswad berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah, 'Bagaimanakah shalat Rasulullah di malam hari?' Ia menjawab, 'Beliau tidur pada permulaan malam, dan bangun di akhir malam, lalu shalat. Kemudian kembali ke tempat tidur beliau. Apabila muadzin mengumandangkan azan, maka beliau melompat. Jika beliau mempunyai keperluan, maka beliau mandi. Jika tidak, maka beliau berwudhu dan keluar.'"

Berdirinya Nabi di Waktu Malam dalam Bulan Ramadhan dan Bulan Iainnya

Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan bahwa ia bertanya kepada Aisyah, "Bagaimanakah shalat Nabi di bulan Ramadhan?" Aisyah menjawab, "Rasulullah baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lain tidak pernah menambah atas sebelas rakaat, yaitu beliau shalat empat rakaat. Namun, jangan kamu tanyakan lagi tentang baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rakaat (lagi), dan jangan kamu tanyakan lagi tentang baik dan panjangnya. Lalu, beliau shalat tiga rakaat. Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum witir?' Beliau menjawab, 'Wahai Aisyah, kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur.'"

Sholat Tahajud 8

Ikatan Setan pada Tengkuk (Leher) Jika Seseorang Tidak Shalat Malam
 

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Setan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu pada waktu tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan dikatakan, 'Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah.' Apabila ia bangun dan ingat kepada Allah, maka lepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu, maka terlepaslah satu ikatan (lagi). Dan, jika ia mengerjakan shalat, maka terlepaslah seluruh ikatannya. Ia memasuki pagi hari dengan tangkas dan segar jiwanya. Jika tidak, maka ia masuk pagi dengan jiwa yang buruk dan malas."

Jika Seseorang Tidur dan Tidak Shalat Malam, Maka Setan Telah Kencing di Telinganya
 
Abdullah berkata, "Disebutkan di sisi Nabi bahwa ada seorang laki-laki yang selalu tidur sampai pagi tanpa mengerjakan shalat (malam). Lalu beliau bersabda, 'Setan telah kencing di telinganya.'"

Sholat Tahajud 7


Cara Shalat Nabi dan Berapa Rakaat Shalat Beliau pada Waktu Malam
 
Masruq berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah tentang shalat malam Rasulullah.' Aisyah menjawab, 'Adakalanya tujuh, sembilan, dan ada kalanya sebelas rakaat, selain dua rakaat fajar.'"

Aisyah berkata, "Nabi biasa melakukan shalat malam tiga belas rakaat, termasuk witir dan shalat fajar dua rakaat."

Shalat Malam Nabi Muhammad sholallahu 'alaihi wasallam, Tidurnya, serta Mengenai Apa yang Dihapuskan dari Shalat Malam Itu, dan Firman Allah, "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada waktu siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)." (al-Muzzammil: 1-7)

Firman Allah, 'Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu. Karena itu, bacalaah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah. Maka, bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya." (al-Muzzammil: 20)



Sholat Tahajud 6

Orang yang Tidur di Waktu Sahar (Dini Hari Menjelang Subuh)
 
Masruq berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah, 'Apakah amal yang paling disukai Nabi?' Ia menjawab, 'Amal yang dilakukan secara terus-menerus.' (Dalam satu riwayat: 'Amal yang paling disukai Rasulullah ialah yang dilakukan oleh pelakunya secara konstan/ajeg.' 7/181). Lalu aku bertanya lagi, 'Kapan beliau bangun?' Aisyah menjawab, 'Apabila telah mendengar kokok ayam.'" (Dalam satu riwayat: 'Apabila mendengar kokok ayam, beliau bangun lalu mengerjakan shalat)

Aisyah berkata, "Pada waktu sahar (dini hari menjelang subuh) aku tidak menjumpai beliau (Nabi) di tempatku kecuali dalam keadaan tidur."

Sholat Tahajud 5

Berdirinya Nabi dalam Shalat Malam Sehingga Kedua Kakinya Bengkak
 
Aisyah berkata, "Nabi biasa melakukan shalat malam hingga bengkak kedua kaki beliau."

Mughirah bin Syu'bah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah bangun untuk shalat sehingga kedua telapak kaki atau kedua betis beliau bengkak. Lalu dikatakan kepada beliau, 'Allah mengampuni dosa-dosamu terdahulu dan yang kemudian, mengapa engkau masih shalat seperti itu?' Lalu, beliau menjawab, 'Apakah tidak sepantasnya bagiku menjadi hamba yang bersyukur?'"

Sholat Tahajud 4

Anjuran Nabi dengan Sangat untuk Mengerjakan Shalatullail dan Shalat-Shalat Sunnah lain, Tetapi Tidak Mewajibkannya
 
Nabi saw. mengetuk pintu Fatimah dan Ali pada suatu malam untuk shalat.

Aisyah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah meninggalkan amal padahal beliau senang untuk mengamalkannya, karena takut manusia mengamalkannya lalu difardhukan atas mereka. Saya tidak (pernah melihat Rasulullah 2/54) melakukan shalat sunnah seperti shalat sunnah dhuha, dan sesungguhnya saya mengerjakannya."

Sholat Tahajud 3

Meninggalkan Shalatullail untuk Orang Sakit
 
Jundub berkata, "Nabi sakit, maka beliau tidak mendirikan shalat satu malam atau dua malam."

Jundub bin Abdullah berkata, "Jibril tidak mendatangi Nabi, kemudian ada seorang wanita dari kaum Quraisy berkata, 'Setannya Muhammad terlambat datang kepada Muhammad (yakni agak lama tidak datang kepada beliau).' Kemudian turunlah ayat, 'Wadhdhuhaa wal-laili idzaa sajaa. Maa wadda'aka Rabbuka wamaa qalaa.'"

Sholat Tahajud 2

Panjangnya Sujud dalam Melakukan Sholat Malam
 
583. Aisyah berkata, "Rasulullah shalat (malam) sebelas (dan dalam satu riwayat: tiga belas 2/52) rakaat. Memang begitulah shalat beliau. Beliau sujud dalam shalat nya itu untuk satu kali sujud selama seseorang dari kamu membaca kira-kira lima puluh ayat sebelum beliau mengangkat kepalanya. Beliau biasa melakukan shalat (sesudah mendengar azan subuh) dua rakaat yang ringan dan (sebelum shalat subuh) sehingga aku bertanya-tanya, 'Apakah beliau membaca al-Faatihah?' (2/53). Kemudian beliau berbaring di lambungnya yang kanan, hingga datang orang memberitahukannya untuk shalat (subuh)."

Minggu, 05 Oktober 2014

Sholat Tahajud 1

Ibnu Abbas berkata, "Apabila Rasulullah bangun pada malam hari, beliau selalu bertahajud. Beliau berdoa:
'Allaahumma lakalhamdu anta qayyimus (dan dalam riwayat mu'allaq: Qayyamu 8/184) samawaati wal ardhi wa man fiihinna, walakal hamdu, laka mulku (dan dalam satu riwayat: Anta rabbus) samaawaati wal ardhi wa man fiihinna, walakal hamdu, anta nuurus samaawaati wal ardhi wa man fiihinna, wa lakal hamdu, anta malikus samaawaati wal ardhi, wa lakal hamdu, antal haqqu, wawa'dukal haqqu, waliqaa uka haqqun, waqauluka haqqun, wal jannatu haqqun, wan naaru haqqun, wannabbiyuuna haqqun, wa muhammadun sallaahu 'alaihi wa sallama haqqun, wassa'atu haqqun. Allaahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa'alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wabika khaashamtu, wa ilaika haakamtu, faghfir lii maa qaddamtu wamaa akhrartu, wamaa asrartu wamaa a'lantu, [wamaa anta a'lamu bihii minnii], antal muqaddimu wa antal muakhkhiru, (anta ilaahii 8/ 198), laa ilaaha illaa anta, au laa ilaaha (lii 8/167) ghairuka.'
'Ya Allah, bagi Mu segala puji, Engkau penegak langit, bumi dan apa yang ada padanya. Bagi-Mulah segala puji, kepunyaan Engkaulah kerajaan (dalam satu riwayat: Engkaulah Tuhan) langit, bumi, dan apa yang ada padanya. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah Pemberi cahaya langit dan bumi dan apa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah Penguasa langit dan bumi. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah Yang Maha Benar, janji-Mu itu benar, bertemu dengan-Mu adalah benar, firman-Mu adalah benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu benar, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu benar, kiamat itu benar. Ya Allah, hanya kepada-Mulah saya berserah diri, kepada-Mulah saya beriman, kepada-Mu saya bertawakal. Kepada-Mu saya kembali, kepada-Mu saya mengadu, dan kepada-Mu saya berhukum. Maka, ampunilah dosaku yang telah lampau dan yang kemudian, yang saya sembunyikan dan yang terang-terangan, dan yang lebih Engkau ketahui daripada saya. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengemudiankan. (Engkaulah Tuhanku 8/198), tidak ada tuhan melainkan Engkau, atau tiada tuhan (bagiku 8/167) selain Engkau'."

Sabtu, 20 Oktober 2012

Zikir ba'da sholat Fardu

Risalah ini menerangkan tentang dzikir-dzikir yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah shalat fardhu dalam riwayat-riwayat yang shohih atau minimal hasan.
Perlu di ketahui bahwa tata cara ibadah kita kepada Allah harus didasari dengan mutaba’ah (mengikuti petunjuk dan praktek Rasulullah) dan menjauhi bentuk tata cara ibadah yang tidak ada contoh dan anjurannya (bid’ah) dari Rasul dan ini merupakan realisasi syahadah kita. Karena segala kebaikan dan kemaslahatan hanya ada pada petunjuk dan contoh dari Rasul serta praktek para sahabat. Segala bentuk dan tata cara peribadatan yang tidak di contohkan oleh Rasul dan para sahabatnya, meskipun dilakukan dengan ikhlas adalah bid’ah yang pasti di tolak oleh Allah. Rasul bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsipa mengamalkan suatu amalan (dalam dien ini) yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR.Muslim no.1718)
Tertolak dalam arti tidak di terima bahkan berdosa, karena menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Maka seyogyanya seorang muslim itu merujuk pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya saja.
Dzikir setelah setelah sholat fardhu ini di lakukan sendiri-sendiri, karena itulah yang di lakukan Rasul dan para sahabatnya pada waktu mereka selesai melakukan sholat berjama’ah. Hal itu dapat di lihat pada kalimat-kalimat dzikir yang di pergunakan, semuanya memakai isim mufrad (tunggal) bukan jamak (banyak) dan tidak mengapa dzikir di lakukan dengan suara agak keras sebagaimana tercantum dalam hadits Al Bukhori dari Ibnu Abbas. (lihat jilid 1/204 No.841)
Selesai salam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan :

     اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا 

Astaghfirullah (Dibaca 3 x)

«اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»

(HR.Muslim No.593)
Setelah itu, karena Beliau imam, Beliau menghadap makmum (HR. Al Bukhari Jilid 1/205 No 845), kemudian mengucapkan:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ»

(HR.Al Bukhari 1/205 No.844 dan muslim No 593)
Kemudian membaca:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ»

(HR. Muslim No 594)
Kemudian membaca:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

(HR. Abu Dawud No.1522 An Nasai No.1302, sanadnya shahih)
Kemudian mengucapkan:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا – يَعْنِي فِتْنَةَ الدَّجَّالِ – وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ»

(HR. Al Bukhari No.2822)
Kemudian membaca:

سبحان الله

 الحمد لله 

 الله أكبر 

Masing-masing 33 x
Dilanjutkan membaca :

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Atau cukup membaca:

سبحان الله 

الحمد لله  

الله أكبر 

Masing-masing 33 x
Tanpa membaca :

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

(karena jumlahnya sudah genap 100) (HR. Muslim No.596-597)
Kemudian membaca ayat kursi:

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

(HR. An Nasai dalam Al Kubro 6/9928, Al Mundziri 2/453)
Di lanjutkan dengan membaca surat Al Ikhlas 1 (satu) kali, Al Falaq 1 (satu) kali dan An Naas 1 (satu) kali. (Abu Dawud no.1523, At Tirmidzi No.2903, An Nasai No.1335)
Khusus setelah shalat shubuh dan magrib, ketiga surat di atas di baca masing-masing 3 (tiga) kali. (Abu Dawud 2/86, An Nasai 3/68, Shahih At  Tirmidzi 2/8).
Juga di lanjutkan menambah dzikir:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ    

Dibaca 10 x
(HR. At Tirmidzi 5/515. Ahmad 4/227, lihat Takhrij dalam Zaadul Ma’ad 1/290)

Minggu, 06 Maret 2011

Pratik Sholat Dhuha

Rokaat pertama
  1. Berdiri menghadap kiblat dengan seluruh badan tanpa berpaling dan menoleh. 
  2. Niat sholat sunnah Dhuha yang ingin dilaksanakan, klik disini 
  3. Takbiratul Ihram, klik disini
  4. Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri di atas dada. 
  5. Membaca iftitah, klik disini
  6. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  7. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  8. Ruku' klik disini 
  9. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  10. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  11. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  12. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  13. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
Rokaat Kedua
  1. Berdiri dari sujud kedua, sama dengan yang dilakukan pada rakaat pertama. Hanya saja pada rakaat ini tidak membaca doa iftiftah. 
  2. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  3. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  4. Ruku' klik disini 
  5. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  6. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  7. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  8. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  9. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
  10. Kemudian duduk setelah selesai rakaat kedua, seraya mengucapkan tasyahud akhir klik disini
  11. Mengucap salam, klik disini

Pratik Sholat Taubat

Rokaat pertama
  1. Berdiri menghadap kiblat dengan seluruh badan tanpa berpaling dan menoleh. 
  2. Niat sholat sunah Taubat yang ingin dilaksanakan, klik disini 
  3. Takbiratul Ihram, klik disini
  4. Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri di atas dada. 
  5. Membaca iftitah, klik disini
  6. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  7. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  8. Ruku' klik disini 
  9. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  10. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  11. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  12. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  13. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
Rokaat Kedua
  1. Berdiri dari sujud kedua, sama dengan yang dilakukan pada rakaat pertama. Hanya saja pada rakaat ini tidak membaca doa iftiftah. 
  2. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  3. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  4. Ruku' klik disini 
  5. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  6. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  7. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  8. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  9. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
  10. Kemudian duduk setelah selesai rakaat kedua, seraya mengucapkan tasyahud akhir klik disini
  11. Mengucap salam, klik disini

Pratik Sholat Witir

Rokaat pertama
  1. Berdiri menghadap kiblat dengan seluruh badan tanpa berpaling dan menoleh. 
  2. Niat sholat sunah Witir yang ingin dilaksanakan, klik disini 
  3. Takbiratul Ihram, klik disini
  4. Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri di atas dada. 
  5. Membaca iftitah, klik disini
  6. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  7. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  8. Ruku' klik disini 
  9. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  10. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  11. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  12. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  13. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
Rokaat Kedua
  1. Berdiri dari sujud kedua, sama dengan yang dilakukan pada rakaat pertama. Hanya saja pada rakaat ini tidak membaca doa iftiftah. 
  2. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  3. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  4. Ruku' klik disini 
  5. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  6. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  7. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  8. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  9. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
  10. Kemudian duduk setelah selesai rakaat kedua, seraya mengucapkan tasyahud akhir klik disini
  11. Mengucap salam, klik disini

Praktik Sholat Hajat

Rokaat pertama
  1. Berdiri menghadap kiblat dengan seluruh badan tanpa berpaling dan menoleh. 
  2. Niat sholat sunah Hajat yang ingin dilaksanakan, klik disini 
  3. Takbiratul Ihram, klik disini
  4. Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri di atas dada. 
  5. Membaca iftitah, klik disini
  6. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  7. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  8. Ruku' klik disini 
  9. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  10. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  11. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  12. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  13. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
Rokaat Kedua
  1. Berdiri dari sujud kedua, sama dengan yang dilakukan pada rakaat pertama. Hanya saja pada rakaat ini tidak membaca doa iftiftah. 
  2. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  3. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  4. Ruku' klik disini 
  5. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  6. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  7. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  8. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  9. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
  10. Kemudian duduk setelah selesai rakaat kedua, seraya mengucapkan tasyahud akhir klik disini
  11. Mengucap salam, klik disini

Praktik Sholat Tahajud

Rokaat pertama :
  1. Berdiri menghadap kiblat dengan seluruh badan tanpa berpaling dan menoleh. 
  2. Niat sholat sunah Tahajud yang ingin dilaksanakan, klik disini 
  3. Takbiratul Ihram, klik disini
  4. Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri di atas dada. 
  5. Membaca istiftah, klik disini
  6. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  7. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  8. Ruku' klik disini 
  9. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  10. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  11. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  12. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  13. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
 Rokaat kedua :
  1. Berdiri dari sujud kedua, sama dengan yang dilakukan pada rakaat pertama. Hanya saja pada rakaat ini tidak membaca doa iftiftah. 
  2. Membaca surah Al Fatihah, klik disini
  3. Membaca salah satu surat dari Al Qur’an yang biasa dibaca dan dihapal
  4. Ruku' klik disini 
  5. Mengangkat kepala dari ruku’, mengucapkan klik disini 
  6. Lalu mengangkat kedua tangan setinggi pundak, mengucapkan klik disini 
  7. Sujud yang pertama dengan khusyu, klik disini
  8. Duduk di antara dua sujud, klik disini
  9. Sujud kedua dengan khusyu, klik disini 
  10. Kemudian duduk setelah selesai rakaat kedua, seraya mengucapkan tasyahud akhir klik disini
  11. Mengucap salam, klik disini

Sabtu, 05 Maret 2011

Mandi Jenabat

Hadits :

Wajib mandi jenabat 
  1. Bersetubuh : Dari Abi Harairah -semoga Allah meridhainya- ia berkata : telah bersabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- : "Apabila laki-laki telah duduk diantara anggota tubuhnya yang empat kemudian ia bersungguh-sungguh (memasukkan kemaluannya), maka wajiblah mandi" (HR Bukhari dan Muslim) ditambah Muslim : Walaupun tidak keluar mani)
  2. Bermimpi bersetubuh : Dari Ummu Salamah bahwasanya Ummu Sulaim istri Abi Thalhah, bertanya kepada Rasulullah, ia berkata: Sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, apakah mandi diwajibkan atas wanita bila ia bermimpi? Beliau bersabda: "Ya, apabila ia mendapati air (air mani/ basah)" (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sunnah mandi jenabat 

Mandi hari Jum'at. Abi said Al Khudri -semoga Allah meridhainya- ia berkata : telah bersabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- : "Mandi hari Jum’at adalah wajib atas setiap orang yang telah mimpi (baligh)" (H.R. Bukhari dan Muslim) dan Dari Samurah bin Jundub -semoga Allah meridhainya- ia berkata : telah bersabda Rasululullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- : "Barangsiapa yang wudhuk pada hari Jum’at maka itu adalah bagus, dan barangsiapa mandi, maka mandi itu adalah yang lebih afdhal' (H.R. Tirmizi dan dihasankanya)

Tata Cara Mandi Besar
  1. Dari  'Aisyah ia berkata : "Adalah Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- jika ia melakukan mandi junub, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kiri, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudhuk, kemudian mengambil air, lalu beliau memasukkan jari jemarinya ke pangkal rambut, kemudian beliau menuangkan air atas kepalanya tiga tuangan, kemudian beliau menyiramkan air ke sekujur tubuhnya kemudian mencuci kedua kakinya." (H.R. Bukhari dan Muslim)
  2. Dari Maimunah -semoga Allah meridhainya. artinya: tata cara mandi yang sempurna itu didahului oleh wadhuk, cuma saja mencuci kedua kakinya diakhirkan saat selesai memandikan sekujur tubuh.
  3. Dari Ummu Salamah  ia berkata : saya bertanya, wahai Rasulullah sesungguhnya saya adalah wanita yang kepang rambut saya tebal, apakah saya menguraikannya untuk mandi junub dan haid, beliau menjawab : "Tidak. Cukuplah bagimu untuk menuangkan air ke atas kepalamu tiga kali tuangan". (H.R.  Muslim)